LP2STM Exit Reader Mode

Inovasi Pendingin Ramah Lingkungan dengan Teknologi Gelombang Laut

3 mahasiswa Universitas Indonesia (UI) merancang inovasi untuk membantu nelayan mengurangi penggunaan energi listrik dalam proses pengawetan ikan. (DOK.UI)

Nelayan kini bisa memanfaatkan energi gelombang laut sebagai sistem penggerak sistem pendingin. Sistem ini memungkinkan ikan terjaga kesegarannya dalam waktu dua hari. Kelebihan lainnya, refrigrasi yang mudah dalam aplikasinya.

Selama ini, pengawetan ikan dilakukan dengan menggunakan mesin pendingin. Sistem pendingin tersebut memerlukan energi listrik. Selain mesin pendingin, kebanyakan nelayan juga masih menggunakan batu es sebagai pendingin konvensional.

Namun es hanya dapat mempertahankan suhu rendah dalam waktu yang singkat. Padahal ikan memerlukan suhu rendah dalam waktu lama agar terjaga kesegarannya sampai masuk pasar.

Kondisi itulah yang mengundang perhatian Bintang Samudra, Dick Bernardi, dan Mario Muhammad. Ketiga mahasiswa Universitas Indonesia (UI), ini merancang inovasi untuk membantu nelayan mengurangi penggunaan energi listrik dalam proses pengawetan ikan.

Biaya pembuatan dan instalasi sistem ini relatif murah. Sistem ini juga memungkinkan menampung ikan hingga satu ton. “Ini energi terbarukan yang sangat memungkinkan untuk diaplikasikan,” kata Bintang.

Potensi gelombang laut di Indonesia, kata dia, sangat besar. Dengan mengaplikasikan sistem ini, energi gelombang laut bisa digunakan sebagai penggerak kompresor sehingga dapat menghasilkan sistem pendinginan yang bersih dan terbarukan. Vortex tube juga memiliki sistem yang lebih praktis daripada metode pendinginan konvensional.

Bintang berharap inovasi baru ini dapat membantu banyak nelayan di Indonesia. Dia juga berharap inovasi ini dapat diaplikasikan untuk nelayan dan masyarakat pesisir yang dalam kesehariannya membutuhkan teknologi pendinginan.

Harapan itu bisa terwujud bila ada keterlibatan pemerintah. Sosialisasi perlu dilakukan kepada masyarakat di sekitar pesisir pantai untuk mempermudah penerapan teknologi ini dalam proses pendinginan ikan.

Inovasi Bintang dan kawan-kawan berbuah penghargaan. Dibimbing oleh Ardiansyah, ST, MEng, inovasi yang diberi judul “Sistem Refrigerasi Vortex Tube untuk Pengawetan Ikan Menggunakan Energi Gelombang Air Laut”, ini memenangkan Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Nasional Green Scientific Competition (LKTIN GSC).

Lomba diselenggarakan oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemeristek Dikti), diikuti 252 tim dari 80 universitas. Perguruan tinggi tersebut berasal dari 30 provinsi di Indonesia.

Prestasi para ilmuwan muda ini tidak kalah, bahkan mampu mengungguli koleganya dari negara-negara lain yang dianggap lebih maju. Tidak sedikit karya-karya ilmiah brilian putra-putri bangsa ini justru dimanfaatkan orang atau bangsa lain. Ada yang diambil oleh perusahaan atau universitas negara lain untuk dikembangkan menjadi temuan baru untuk diproduksi massal dalam berbagai industri.

“Tentu saja fenomena ini tidak boleh dibiarkan. Jangan karena kita menganut pasar bebas kemudian berpikir semua potensi bangsa ini bebas dimanfaatkan dan dimiliki siapa saja,” kata Menteri Ristek Dikti, Muhammad Nasir kepada wartawan di Jakarta, pekan lalu.

Dia mengakui, prestasi ilmiah yang dihasilkan para mahasiswa itu memang belum sampai pada tahap bisa diproduksi massal. Harus ada tangan-tangan lain yang membantu dan membesarkan gagasan-gagasan brilian itu sehingga memperoleh nilai tambah bagi kemajuan bangsa. Di sinilah peran negara dan pemerintah.

Pakar pendidikan Universitas Negeri Jakarta, Laode Aramuddin menyayangkan penelitian dan riset di negeri ini masih dianggap sebagai bidang kelas dua. Perhatian pada penelitian dan pengembangan di Indonesia memang masih terbilang seadanya.

Padahal, menurut dia, di negara-negara maju bidang ini adalah andalan. Mereka berani menganggarkan dana miliaran dolar karena dari sinilah keunggulan-keunggulan mereka berasal. “Karya ilmiah mahasiswa di Indonesia masih cenderung terabaikan,” katanya.

Menurut dia, di negara yang kurang menghargai budaya penelitian dan pengembangan, pemerintah mestinya memberi perhatian penuh. Kenyataannya, apa yang sedang dilakukan dan dikembangkan Kementerian Riset dan Teknologi jarang sekali terdengar publik. “Anggaran yang minim salah satu sebab mengapa bidang yang menjanjikan ini sering kali kurang dianggap,” katanya.

Oleh : Eko B Harsono