LP2STM.or.id —Banda Aceh, 16 Oktober 2025 | Perkumpulan Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sekawan Teknokrat Mandiri Aceh (LP2STM-Aceh) menilai kerja sama PT Pembangunan Aceh (PEMA) dengan Zhongke Holding Green Technology Co. Ltd (China) bukan sekadar proyek peternakan, melainkan ujian nyata bagi arah kemandirian ekonomi Aceh.

Menurut LP2STM, program ini menyentuh akar persoalan lama: ketergantungan pangan, lemahnya hilirisasi industri, dan gagalnya industrialisasi ekonomi daerah sejak era otonomi khusus.
⚖️ Koreksi atas Kegagalan Industrialisasi
Pendiri Perkumpulan LP2STM-Aceh, Zikrul Khalid, ST., MT., menegaskan bahwa hampir dua dekade otonomi khusus belum mampu melahirkan ekonomi produktif dan berkelanjutan.
“Kita pernah punya program besar seperti Aceh Green, Aceh Hebat, dan Aceh Mandiri, tapi semuanya berhenti di tataran slogan. Swasembada telur adalah simbol sederhana — jika Aceh masih bergantung pada pasokan dari Medan, itu berarti kita belum berdaulat secara ekonomi,” ujarnya.
Momentum Baru: Berbasis Riset dan Transparansi
Ketua Pengurus LP2STM-Aceh, Dr. Ir. Saisa, ST., MT., menilai proyek PEMA dapat menjadi titik balik pembangunan ekonomi Aceh, dengan catatan dikelola melalui model riset terapan, akuntabilitas publik, dan pelibatan masyarakat lokal.
“Kita tak butuh proyek seremoni, tapi sistem ekonomi rakyat berbasis ilmu dan teknologi. LP2STM siap mendampingi dengan pendekatan riset dan digitalisasi rantai pasok agar proyek ini benar-benar menjadi laboratorium ekonomi rakyat,” tegasnya.
LP2STM juga mengingatkan agar kerja sama asing menekankan alih teknologi, penguatan SDM lokal, dan pengembangan industri pakan lokal berbasis hasil pertanian Aceh.

Perspektif Akademik: Pandangan Prof. Dr. Srinita
Pakar ekonomi pembangunan dari Universitas Syiah Kuala, Prof. Dr. Srinita, SE., M.Si, menilai kerja sama antara Pemerintah Aceh dan perusahaan China dalam pembangunan kawasan industri unggas dan telur merupakan langkah strategis untuk meningkatkan perekonomian daerah dan kemandirian pangan.
“Dengan investasi ini, Aceh dapat meningkatkan produksi telur dan daging unggas, mengurangi ketergantungan pada impor, dan memperkuat fondasi ekonomi lokal,” jelas Prof. Srinita.
Manfaat Potensial:
Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan peternak lokal.
Menciptakan lapangan kerja baru di sektor agribisnis dan industri terkait.
Mendorong kontribusi pertanian terhadap PDRB Aceh.
Mengurangi ketergantungan Aceh pada sektor primer dan memperluas diversifikasi ekonomi.
Tantangan yang Perlu Diatasi:
Ketersediaan infrastruktur pendukung industri modern.
Pengelolaan limbah secara berkelanjutan untuk menjaga lingkungan.
Penguatan kapasitas SDM agar mampu mengelola industri unggas modern.
Inovasi dan Teknologi:
Penerapan teknologi modern dalam budidaya unggas dan produksi telur untuk efisiensi dan produktivitas.
Pengembangan sistem pengelolaan limbah ramah lingkungan.
Pelatihan dan pendidikan peternak serta pekerja industri guna meningkatkan keterampilan dan daya saing.
“Dengan sinergi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat, kawasan industri unggas di Aceh dapat menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah,” pungkas Prof. Srinita.
Tugas Bersama untuk Generasi Baru Aceh
LP2STM-Aceh menyerukan agar proyek ini dijadikan model ekonomi berbasis riset, inovasi, dan keberlanjutan, bukan proyek simbolik.
“Kini saatnya Aceh berhenti menjadi pasar bagi daerah lain, dan mulai menjadi produsen bagi dirinya sendiri,” tutup pernyataan resmi LP2STM-Aceh.
Tentang LP2STM-Aceh
Perkumpulan Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sekawan Teknokrat Mandiri Aceh (LP2STM-Aceh) adalah lembaga riset independen berbasis masyarakat yang berfokus pada penguatan SDM daerah, inovasi teknologi terapan, dan ekonomi digital desa menuju kemandirian ekonomi Aceh.
Editor : Humas LP2STM-Aceh
Kontak Media:
Humas LP2STM-Aceh
humas@lp2stm.or.id
| https://lp2stm.or.id
LP2STM #RisetTeknologiDampak