SEJARAH

Sejarah Pendirian LP2STM – Aceh
Lembaga Penelitian dan Pengembangan  Sekawan Teknokrat Mandiri (LP2STM) – Aceh merupakan sebuah lembaga pendidikan tinggi dan profesi peneliti swasta yang bergerak dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, pendidikan dan seni. Adapun ruang lingkupnya pada sektor pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang dapat dilakukan secara mandiri dan swadaya. LP2STM – Aceh didirikan pada  tanggal 13 Oktober 2014, atas inisiatif Zikrul Khalid; Anisa Silvia Rosalina; Lisma Luciana dkk melalui Akta Notaris Nomor : 09 tanggal 13 Oktober 2014 yang dibuat oleh Notaris Evi Melwinta Morin, SH di Banda Aceh, Aceh. Dan berdasarkan Nomor Surat Keterangan Berdomilisi : 471.13 / 0830 tanggal 16 Oktober 2014 yang dikeluarkan oleh Keuchik / Kepala Desa Gampong Geuceu Meunara Kec. Jaya Baru Kota Banda Aceh. Beserta Nomor Induk Berusaha (NIB) : 0409210004344 tanggal 4 September 2021.

Adapun tujuannya, guna meningkatkan kualitas Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Indonesia berdasarkan UU Nomor 11 Tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Saat ini jumlah anggota LP2STM mencapai kurang lebih 50 Orang yang terdiri dari Dosen PTN, Dosen PTS, Peneliti (Dalam dan Luar Negeri), Pakar, Professor, Konsultan, maupun Pengusaha Lokal, Nasional dan Internasional.

Peran LP2STM Aceh

  1. Sebagai Pusat Studi ataupun Riset Inovasi dan Teknologi (Center for Study or Research on Innovation and Technology) Swasta di Aceh.
  2. Sebagai Pusat Pengembangan Publikasi Jurnal Ilmiah berbasis Online.
  3. Sebagai Pusat Pelatihan Riset Teknologi dan Sains dan UMKM di Aceh
  4. Sebagai wahana bersama pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam upaya mengoptimalkan dan mendorong transformasi Teknologi Digital  yang berdaya saing di tingkat Global.
  5. Sebagai wahana bersama untuk Advokasi Riset (Advocacy Research) Teknologi dan Sains. Salah satunya melalui serangkaian tindakan advokasi yang dilakukan secara akademisi dan  ilmiah keilmuwan. LP2STM juga yakin bahwa keunggulan riset mampu menopang inisiatif dan keberlangsungan advokasi. Untuk itu, LP2STM selalu berusaha mengidentifikasi berbagai fasilitas dan kesempatan agar riset yang dihasilkan selama ini strategis untuk diadvokasikan. Advokasi yang diperankan LP2STM tidak sekedar berorientasi untuk melahirkan pemikiran dan teknologi baru, tapi juga merespon agenda technology for humanity melalui pendalaman terhadap dinamika riset (research issues) dan berupaya menyediakan penafsiran yang lebih progresif. Langkah ini berpeluang diwujudkan pada dua wilayah aksi yang menjadi konsentrasi LP2STM, legislasi dan riset. Tidak semua jalur advokasi bisa maksimal dan langsung dilalui sendiri oleh LP2STM. kegiatan ilmiah dan kelompok-kelompok diskusi diperlukan untuk kesamaan gagasan, strategi atau pendekatan, menjadi sebuah pilihan. Bahkan untuk makin memperluas cakupan dan dukungan, dapat bermitra dengan NGO di daerah, organisasi profesional, lembaga penelitian dan pengembangan, perguruan tinggi, dan para ahli pemerintah maupun swasta.
  6. Mengelola Media Online untuk Media Berita dan Artikel  serta Pusat-Pusat Riset.
  7. Pusat Hak Intelektual
  8. Badan Sertifikasi Profesi Peneliti Tingkat Pemula dan Lanjutan
  9. Sekolah Berbasis Riset

Peneliti Ahli LP2STM Aceh 

Inspiratif Tokoh Teknologi – B.J Habibie, Teknolog Jenius Indonesia yang Dikenal Dunia

Prof. Dr.-Ing. Ir. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, FREng.lahir di Kota Pare-Pare Sulawesi Selatan pada tanggal 25 Juni 1936. Ia merupakan anak keempat dari delapan bersaudara dari pasangan pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan R.A. Tuti Marini Puspowardojo. Sang ayah merupakan seorang ahli pertanian dari Gorontalo dan memiliki keturunan Bugis. Sedangkan sang ibu asal Jawa dan merupakan anak dari dokter spesialis mata di Yogyakarta.

Habibie sudah menunjukkan kecerdasannya sejak dini dan memiliki ketertarikan khusus dengan fisika. Ia mengenyam studi Teknik Mesin di Institut Teknologi Bandung (ITB) yang dahulu bernama Universitas Indonesia Bandung pada tahun 1954.

Ia kemudian melanjutkan studi teknik penerbangan selama 10 tahun di Rhenisch Wesfalische Tehnische Hochscule (RWTH), Aachen, Jerman. Habibie kemudian mendapatkan gelar diploma insinyur pada 1960 dan gelar doktor konstruksi pesawat terbang pada 1965 dengan predikat summa cum laude.

Setelah lulus, Habibie kemudian bekerja di perusahaan penerbangan yang berpusat di Hamburg, Jerman, yaitu Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB) pada 1965-1969 sebagai Kepala Penelitian dan Pengembangan pada Analisis Struktrur Pesawat Terbang, dan kemudian menjabat Kepala Divisi Metode dan Teknologi pada industri pesawat terbang komersial dan militer dari tahun 1969 hingga 1973.

Berkat kinerja dan kredibilitasnya, Habibie pun dipercaya sebagai Vice President sekaligus Direktur Teknologi di MBB pada 1973 sampai 1978 serta menjadi Penasihat Senior bidang teknologi untuk Dewan Direktur MBB (1978).

Perjalanan karier Habibie sangat cemerlang terutama dalam urusan desain dan konstruksi pesawat terbang. Selama bekerja di Jerman, Habibie menelurkan berbagai hasil penelitian dan sederet teori untuk ilmu pengetahuan dan teknologi Thermodinamika, Konstruksi, dan Aerodinamika. Beberapa teorinya yang dikenal dalam dunia pesawat terbang antara lain Habibie Factor, Habibie Theorem, dan Habibie Method.

Pada tahun 1973, ia kembali ke Indonesia atas permintaan Presiden Soeharto. Tak lama kemudian, Habibie ditunjuk sebagai Direktur Industri Pesawat Terbang Nusantara/IPTN dari 1976-1998, Direktur Utama Perum Dok dan Galangan Kapal pada 1978-1998, Direktur Utama PT Pindad pada 1983-1998 dan Ketua Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS) dan Wakil Ketua Dewan Pembina Industri Strategis (DPIS).

Pada 1978, ia juga diangkat menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek). Habibie menjabat sebagai menteri tersebut selama 20 tahun hingga 1998. Selain itu, BJ Habibie juga memimpin proyek pesawat N250 Gatotkaca yang menjadi pesawat pertama buatan Indonesia.

Saat menjabat Menristek Habibie memiliki visi untuk memajukan Indonesia dengan bertumpu pada riset dan teknologi, khususnya industri strategis yang dikelola oleh PT IPTN, PT Pindad, dan PT PAL. Targetnya, Indonesia sebagai negara agraris dapat menjadi negara industri dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ketika menjabat sebagai Menristek, Habibie juga terpilih sebagai Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) yang pertama pada 1990. Puncak karier Habibie terjadi pada tahun 1998, di mana saat itu ia diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia, setelah sebelumnya menjabat sebagai Wakil Presiden ke-7 dalam Kabinet Pembangunan VII di bawah Presiden Soeharto.

Habibie dikenal luas sebagai intelektual internasional dalam bidang teknologi, atas pemikiran, komitmen, dan dedikasinya dalam upaya memajukan Iptek di Indonesia. Semangat dan dedikasi Habibie diharapkan dapat terus mendorong pada ilmuwan insan terbaik bangsa dari berbagai disiplin Iptek, serta mereka yang telah membaktikan hidupnya untuk kesejahteraan, keadilan dan perdamaian untuk terus berkarya bagi bangsa Indonesia.