LP2STM.or.id — Banda Aceh, 7 Desember 2025 | Pusat Riset Manajemen Bencana dan Perubahan Iklim (Pusri MBPI) LP2STM merilis laporan riset terbaru yang menggabungkan data resmi Pusdalops BNPB dan laporan langsung dari masyarakat di lapangan. Hasil analisis menunjukkan bahwa bencana banjir dan longsor yang menerjang Aceh–Sumatera Utara–Sumatera Barat telah memasuki fase krisis nasional, ditandai dengan melonjaknya jumlah korban jiwa, pengungsian massal, keruntuhan infrastruktur, serta kemunculan banjir susulan cepat (flash flood recurrence) di banyak wilayah.
1. Dampak Kemanusiaan: Lebih dari 1.000 Korban Jiwa & Eksodus Pengungsi Terbesar Pasca 2004
Dari analisis terhadap laporan Pusdalops BNPB periode 6–7 Desember 2025, LP2STM mencatat bahwa jumlah korban meninggal dunia (MD) dan hilang di tiga provinsi utama telah melampaui angka 1.000 jiwa. Beberapa kabupaten dengan dampak terbesar:
Agam (Sumbar): 173 MD, 85 hilang
Aceh Utara: 121 MD, 28 hilang
Tapanuli Tengah: 91 MD, 74 hilang
Tapanuli Selatan: 85 MD, 31 hilang
Bener Meriah: 35 MD, 28 hilang
Aceh Timur: 40 MD
Pidie Jaya: 28 MD
Jumlah pengungsi:
Aceh Utara: 602.722 jiwa
Aceh Tamiang: 280.386 jiwa
Aceh Timur: 180.010 jiwa
Agam: 10.910 jiwa
Tapanuli Tengah: 17.007 jiwa
LP2STM menilai bahwa skala pengungsian ini masuk kategori Mass Displacement National Event, melampaui kapasitas penanganan daerah.
2. Infrastruktur Kolaps: Telekomunikasi, Listrik, dan Transportasi Tidak Berfungsi di Banyak Titik
Laporan BNPB dan temuan Pusri MBPI menunjukkan kegagalan sistemik pada infrastruktur vital:
Telekomunikasi
Aceh Utara dan Gayo Lues mengalami putus total jaringan seluler.
Agam (Sumbar) mengandalkan Starlink untuk komunikasi darurat.
Beberapa wilayah Sumut masih tanpa sinyal.
Listrik
Pemadaman panjang terjadi di Aceh Timur, Aceh Utara, Samalanga, hingga beberapa titik Sumut.
Transportasi
Jalur Aceh Tengah–Gayo Lues terputus.
Jalur Samalanga–Bireuen–Pidie Jaya sangat rawan banjir susulan.
Sumbar mengalami kerusakan jembatan dan akses antar-nagari.
LP2STM menilai bahwa bencana ini masuk kategori Infrastructure Systemic Failure yang membutuhkan koordinasi dan intervensi pusat.
3. Update Lapangan 7 Desember 2025: Banjir Susulan Terjadi Cepat dan Tiba-Tiba
Berdasarkan laporan masyarakat yang diterima dan diverifikasi oleh Tim Pusri MBPI LP2STM melalui rapid communication mapping, terjadi banjir susulan mendadak di kawasan Aceh bagian utara dan timur.
Samalanga – Batee Ilik – Meredu – Pidie Jaya (Pijay)

Warga melaporkan naiknya air sungai secara tiba-tiba pada pukul 23.00–00.00:
“Air Krueng Batee Ilik sekarang sudah mulai meluap lagi. Mohon hati-hati dan tetap waspada untuk wilayah Samalanga.”
— Laporan warga (23.22 WIB)
Laporan lanjutan:
“Yang punya saudara di Pijay mohon diinstruksikan mengungsi, khusus yang tinggal di hulu/pinggir sungai. Air sudah naik.”
Kesaksian warga lain:
“Tadi pagi lewat jalur Banda Aceh–Perlak. Sekarang Batee Ilik, Meredu, Pijay sudah banjir lagi.”
Temuan ini mengonfirmasi bahwa kondisi hidrologi wilayah tersebut belum stabil, dan banjir susulan berpotensi terus terjadi.

4. Analisis Riset Pusri MBPI: Gejala “Recurring Flood Hazard” Akibat Ketidakstabilan DAS
Dari integrasi data BNPB, laporan lapangan, citra cuaca, dan analisis DAS, Pusri MBPI mengidentifikasi penyebab utama banjir susulan:
Curah hujan hulu yang ekstrem dan tidak merata
Tanah jenuh air, memicu luapan cepat
Kerusakan kawasan hulu DAS dan deforestasi
Tingginya sedimentasi & kerusakan tanggul
Fenomena ini disebut sebagai secondary flood wave dan merupakan tanda bahwa sistem hidrologi berada pada fase ketidakstabilan hingga beberapa hari ke depan.
5. Kerusakan Infrastruktur Perumahan: Tekanan Berat pada Sistem Rehabilitasi Nasional
Data BNPB mencatat kerusakan besar:
Bireuen: 212.916 rumah terdampak
Aceh Utara: 170.934 rumah terdampak
Lhokseumawe: 17.000 rumah rusak ringan
Aceh Timur: 8.258 rumah rusak
Agam: 1.059 rumah rusak
Tanah Datar: 399 rumah rusak
Skala kerusakan ini menunjukkan perlunya rehabilitasi nasional jangka panjang, bukan sekadar bantuan provinsi.
6. LP2STM Mendesak: “Saatnya Menetapkan Darurat Bencana Nasional”
Ketua Perkumpulan LP2STM Aceh, Zikrul Khalid, menegaskan:
“Data BNPB, laporan lapangan, dan pola banjir susulan menunjukkan bahwa ini adalah krisis multi-provinsi. Pemerintah pusat harus mempertimbangkan penetapan Status Darurat Bencana Nasional.”
Ketua Harian LP2STM, Dr. Ir. Saisa, ST., MT, menambahkan:
“Kegagalan sistemik pada telekomunikasi, energi, dan transportasi menunjukkan bahwa penanganan bencana sudah melampaui kapasitas daerah. Intervensi pusat harus segera dilakukan.”
7. Rekomendasi Strategis Pusri MBPI LP2STM
Prioritas 0–72 Jam
Evakuasi warga di pinggir sungai Samalanga–Pijay
Deploy komunikasi darurat (VSAT, Starlink, HF/VHF)
Penempatan alat berat di jalur lintas rawan banjir
Jangka 7–14 Hari
Penilaian risiko DAS
Stabilitas tanggul dan sedimentasi sungai
Analisis pola hujan ekstrem berulang
Jangka Panjang
Rekonstruksi infrastruktur berbasis ketahanan
Revitalisasi hulu DAS
Peta risiko banjir berbasis perubahan iklim
Penutup
LP2STM melalui Pusat Riset Manajemen Bencana dan Perubahan Iklim (Pusri MBPI) akan mengeluarkan Situation Report (SITREP 2.2) dalam 24 jam atau lebih cepat bila terjadi banjir susulan signifikan.
Editor : Humas LP2STM-Aceh
Kontak Media:
Humas LP2STM-Aceh
humas@lp2stm.or.id
LP2STM #RisetTeknologiDampak 