LP2STM.or.id — Banda Aceh, 6 Desember 2025 |Pusat Riset Elektro, Komputer dan Digital (PUSRI ELKOMDIGI) LP2STM menegaskan bahwa klaim pemulihan jaringan telekomunikasi yang disampaikan operator dalam laporan KONTAN.CO.ID (5/12/2025) belum sepenuhnya mencerminkan kondisi nyata di wilayah bencana Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Meski operator menyebut ratusan site sudah kembali aktif dan layanan mulai normal, temuan lapangan LP2STM justru menunjukkan ketimpangan pemulihan yang sangat besar, terutama di desa-desa terdampak banjir dan longsor yang hingga kini masih terisolasi.
Situasi tersebut diperkuat oleh laporan warga seperti diberitakan Metropolis.id, di mana masyarakat di Aceh Jaya masih mengeluhkan sinyal yang hilang total dan internet yang tidak dapat digunakan.
1. Data Pemulihan Operator Diapresiasi, Namun Berbeda Jauh dari Fakta Lapangan
Operator melaporkan:
76,5% site Telkomsel kembali beroperasi,
79,7% layanan IndiHome pulih,
Sumut & Sumbar dilaporkan mencapai 90% lebih.
Namun hasil riset PUSRI ELKOMDIGI di lapangan — yang dilakukan melalui pengukuran Quality of Service (QoS), pemetaan sinyal, wawancara posko, dan observasi titik-titik rawan — menunjukkan gambaran yang jauh berbeda.
Temuan LP2STM:
Banyak desa di Aceh Timur, Aceh Tamiang, Aceh Besar, Aceh Utara, Pidie Jaya, Mandailing Natal, Pasaman Barat, dan Agam masih mengalami blank spot atau sinyal yang tidak dapat digunakan (non-functional signal).
Sejumlah BTS yang dilaporkan “aktif” sebenarnya beroperasi dengan kapasitas minimal, bergantung pada genset yang persediaan BBM-nya terbatas.
Putusnya jalur fiber optik di bantaran Krueng Tamiang, Krueng Peureulak, dan beberapa lereng di Sumbar menyebabkan kapasitas jaringan turun drastis.
Jalur akses ke beberapa tower masih tertutup longsor, membuat teknisi tidak dapat melakukan optimalisasi radio, penggantian battery pack, ataupun restorasi penuh.
“Angka pemulihan operator adalah data teknis internal. Namun ketika diuji secara fungsional di lapangan, banyak lokasi yang masih tidak dapat berkomunikasi dengan baik, bahkan pada level panggilan suara dasar,” kata Kepala PUSRI ELKOMDIGI LP2STM.
2. Klaim “Berangsur Pulih” Tidak Relevan Jika Masyarakat Belum Bisa Menggunakan Layanan
Dalam evaluasi LP2STM, persentase site aktif tidak dapat menjadi tolak ukur tunggal.
Yang lebih relevan adalah kualitas layanan yang dirasakan masyarakat.
Hasil pengamatan PUSRI ELKOMDIGI:
Banyak lokasi hanya mendapat 1–2 bar sinyal, tetapi tidak dapat melakukan panggilan stabil.
Internet sering hanya muncul beberapa detik sekali (burst traffic).
Latency melonjak hingga 900–1600 ms, tidak layak untuk koordinasi darurat.
Di beberapa posko, WhatsApp baru bisa terkirim 1–2 jam setelah pesan dibuat.
“Jika warga masih tidak bisa melapor, meminta bantuan, atau menghubungi keluarga, berarti jaringan belum pulih. Sesederhana itu.”
3. Riset Lapangan 8 Hari: Pemulihan Masih di Tahap Awal
PUSRI ELKOMDIGI melakukan pemetaan sirkuit jaringan darurat sejak 28 November hingga 5 Desember 2025.
Temuan teknis:
29 BTS masih tidak beroperasi penuh.
11 tower berisiko struktur karena pergeseran tanah dan erosi kaki tiang.
14 segmen FO putus total dan belum tersentuh perbaikan.
Puluhan desa pegunungan mengalami intermittent signal — sinyal muncul-hilang tiap 5–10 menit.
5 posko pengungsian besar di Aceh Tamiang, Pidie Jaya, dan Pasaman melaporkan internet tidak bisa dipakai untuk logistik dan data korban.
“Jika jaringan tidak stabil, rantai koordinasi logistik, kesehatan, dan evakuasi terhambat. Ini bukan soal kenyamanan—ini soal keselamatan ribuan warga.”
4. Kesamaan Temuan dengan Operator Lain dan Kebijakan Pemerintah
LP2STM menyebut pernyataan XL–Smartfren bahwa banyak BTS di Aceh dan Sumut masih terganggu selaras dengan temuan riset.
Sementara upaya pemerintah melalui pengiriman terminal satelit (Starlink, Satria-1, PSN) diapresiasi, namun belum merata:
banyak posko desa belum menerima perangkat,
jalur distribusi sulit,
beberapa terminal hanya ditempatkan di kantor kabupaten, bukan titik terdampak.
5. Pernyataan Dr. Ir. Saisa, ST., MT — Ketua Pengurus Harian LP2STM
“Kami menghargai kerja keras operator. Tetapi narasi pemulihan harus disampaikan dengan jujur dan proporsional. Jika desa masih tidak bisa menghubungi posko, berarti pemulihan belum tuntas.”
“Kami meminta pemerintah pusat mengerahkan dukungan teknis tambahan, termasuk akses cepat ke tower kritis dan optimalisasi VSAT untuk daerah terisolasi.”

6. Rekomendasi PUSRI ELKOMDIGI: Pemulihan Harus Berbasis Data Lapangan
LP2STM menyerukan langkah-langkah berikut:
a. Audit independen jaringan di tiga provinsi terdampak
Untuk memvalidasi klaim pemulihan operator.
b. Pengiriman besar-besaran Mobile BTS dan VSAT
Prioritas untuk desa yang terputus.
c. Percepatan restorasi fiber optik
Terutama di bantaran sungai dan wilayah rawan longsor.
d. Pembentukan Satgas Komunikasi Darurat Lintas Provinsi
Untuk monitoring harian berbasis data teknis dan laporan warga.
e. QoS harus menjadi indikator utama
Bukan hanya jumlah site aktif atau status “ON”.
7. Kesimpulan
LP2STM menegaskan bahwa pemulihan jaringan telekomunikasi belum merata dan masih menyisakan banyak wilayah dalam kondisi krisis komunikasi.
Laporan operator merupakan perkembangan positif, tetapi belum menggambarkan kondisi faktual di lapangan.
“Selama warga masih kesulitan menghubungi keluarga atau posko, pemulihan belum selesai,” tutup Kepala PUSRI ELKOMDIGI LP2STM, Zikrul Khalid, ST.,MT.
Editor : Humas LP2STM-Aceh
Kontak Media:
Humas LP2STM-Aceh
humas@lp2stm.or.id
LP2STM #RisetTeknologiDampak