Oleh : Ir. Zulfian, Dipl. Soton
Alumni Institute of Sound and Vibration Research Univ of Southampton, UK
Kepala Pusat Studi Vibrasi dan Akustik Terapan Universitas Syiah Kuala
Kita telah ditakdirkan sebagai penghuni yang mendiami salah satu kawasan rawan gempa dan tsunami dipermukaan planet bumi ini. Sayangnya sejauh ini, Para ilmuwan belum mampu memprediksi peristiwa gempa dan tsunami dengan tepat dan akurat sehingga tidak dapat memberikan informasi awal kepada masyarakat tentang akan terjadi bencana gempa dan tsunami.
Oleh karena itu, Pemerintah Aceh melalui otoritas Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) untuk pertama kali menjelang peringatan kesepuluh tahun bencana tsunami melakukan uji coba sirine sistem peringatan dini tsunami di beberapa lokasi seperti Kantor Gubernur, Blang Oi, Lampulo, Kaju, Lam Awe dan Lhok nga.
Salah satu alasan yang menjadi perhatian penting dalam uji coba sirine tsunami ini adalah untuk menentukan apakah sirine tsunami dapat mengganggu masyarakat akibat suara sirene tsunami? Atau dimaksudkan sebagai tanda peringatan dini untuk evakuasi. Untuk menjawab permasalahan ini, kami dari laboratorium Akustik Universitas Syiah Kuala bersama Tim The COST (Community Of Spirit) dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sekawan Teknokrat Mandiri – Aceh mencoba mengkaji melalui pendekatan empiris dan simulasi suara sirine tsunami yaitu dari hasil data pengukuran tingkat sebaran suara sirine tsunami dilapangan terbuka (open space) dan disertai dengan suatu survei psikologi-sosial yang bersifat jangka pendek (short-term data collection) yang tercakup hanya dilokasi Blang Oi sebagai pusat sumber suara sirene tsunami dan juga sebagai kawasan pasca tsunami karena keterbatasan dana, peralatan alat ukur dan tenaga pengamat.
Dalam pengambilan data hasil pengukuran pada titik titik ukur seperti pusat suara sirine tsunami (Blang Oi), di atas gedung penyelamatan Oleh Lheu dan halaman depan gedung RRI Banda Aceh ini didasarkan pada metode dan prosedur pengukuran yang ditetapkan dalam standar Internasional, ISO 3746 dengan menggunakan alat ukur NOR 140 Sound Analyzer.
Hasil pengukuran lapangan menunjukkan bahwa tingkat daya suara sirene tsunami adalah 105 dB dan tingkat tekanan suara sirene yang diukur diatas gedung penyelamatan itu adalah Leq = 68,5 dB dengan jarak dari sumber suara sirene 500 meter, sedangkan untuk titik ukur di depan gedung RRI tidak terekam karena suara sirene tidak terdengar.
Untuk melakukan evaluasi hasil pengukuran yang diperoleh maka dilakukan perbandingan dengan sumber suara sirine acuan pada kondisi medan bebas dan berdasarkan pada hukum kuadrat invers ( invers square law)
Dari perbandingan antara data hasil pengukuran aktual dengan data acuan tidak terjadi perbedaan arimatik (ΔdB) yang besar maka dapat disimpulkan bahwa besar luas sebaran sirene tsunami efektif mencapai pada radius 500 meter dari sumber suara sirene. Jika kita memperpanjang jarak dua kali (1000 meter) yaitu tingkat sebaran suara sirene turun 6 dB menjadi 62,5 dB, ini artinya bahwa suara sirene tsunami tidak jelas didengar oleh masyarakat karena perbedaan tingkat latar belakang bising (ambient level) dengan tingkat sebaran suara sirene itu adalah kecil.
Untuk tingkat sebaran suara sirene diantara 80-105 dB pada sekitar radius 200 meter, tanggapan masyarakat dirasakan berbeda beda yaitu ada kelompok masyarakat mendengar suara sirene tsunami merasa pekak dan ada kelompok masyarakat lain merasa normal saja. Ini artinya bahwa pengaruh psikologis pada masyarakat yang merasa pekak akan menimbulkan ketergangguan (annoyance) dan ini ada kemungkinan terjadi panik terutama masyarakat yang tinggal disekitar sumber suara sirene tersebut.
Simulasi Suara Sirene Tsunami
Untuk memprediksi besarnya tingkat tekanan suara sirene tsunami dikawasan pasca tsunami dilakukan melalui simulasi tsunami. Dalam simulasi tsunami menggunakan model matematik berdasarkan hukum kuadrat pada frekuensi audio dan dianggap dalam keadaan kondisi ideal, yaitu tanpa mengikut serta atenuasi-atenuasi seperti atenuasi atmosfir dan angin atenuasi permukaan tanah, bangunan penghalang dan sebagainya.
Rencana Aksi Pertama
Andai kata kita ingin mencoba menaikan sumber radiasi suara sirene menjadi 120 dB maka kita dapat memproyeksikan besar luas sebaran suara sirene mencapai pada radius yang terjauh 2000 meter dengan tingkat tekanan suara yang didengar oleh masyarakat pada 60 dB. Dampak tingkat sebaran suara sirene ini terhadap masyarakat terutama antara 120-90 dB dengan radius 100 meter dari sumber akan menimbulkan ketergangguan dan disertai kepanikan karena tingkat kekerasan suara tergolong tinggi.
Rencana Aksi Kedua
Andai kata kita ingin mencoba lagi untuk menaikkan sumber radiasi suara sirene sampai 130 dB dimana tingkat suara sirene ini setara dengan kapal terbang jet pada waktu lepas landas maka kita dapat memproyeksikan besar luas sebaran suara sirene tsunami mencapai pada radius terjauh 4000 meter dimana antara 130-90 dB di anggap daerah dengan tingkat kekerasan suara yang paling tinggi pada umumnya semua masyarakat akan merasa pekak atau sakit menerima suara sirene tersebut dan menimbulkan kepanikan dan ketakutan sehingga kemungkinan banyaknya terjadi kecelakaan seperti lalulintas jalan yang mengakibatkan banyak jumlah korban jiwa.
Dari hasil uji coba sistem peringatan dini tsunami yang dilakukan pada tanggal 26 Oktober 2014 memperlihatkan bahwa hasil uji coba ini tidak mencapai sasaran sebesar luas kawasan pasca tsunami dalam kecamatan Meuraxa sehingga masyarakat yang tinggal diluar radius 500 meter tidak dapat mendengar suara sirene tsunami tersebut. Maka diperlukan suatu rencana aksi dengan pendekatan simulasi dapat digambarkan bahwa jika terjadinya bencana tsunami misalnya di kawasan kecamatan Meuraxa maka pilihan terbaik pada tingkat daya radiasi suara sirine tsunami adalah 120 dB. Pada kenyataannya waktu kejadian bencana tsunami yang telah kita alami Sepuluh Tahun yang lalu hanya terdengar suara gemuruh dari gelombang tsunami seperti layaknya suara kapal terbang jet yang melintas dan terlihat banyak jumlah korban jiwa terutama di jalan Iskandar Muda (Kawasan Meuraxa) karena tidak adanya Sistem Peringatan Dini Tsunami (Tsunami Early Warning Sytem).
Peristiwa bencana gempa dan tsunami yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 menjadi pelajaran bagi kita untuk belajar memahami gempa (getaran seismik) dan tsunami (dalam bahasa Aceh disebut Ie beuna) secara terus menerus.
LP2STM #RisetTeknologiDampak